Kirab Bwee Gee Kudus Mempererat Silaturahmi Klenteng

Di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Hien Bio Kudus, kirab Bwee Gee yang digelar tidak hanya dimaksudkan sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengumpulkan komunitas klenteng dari berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat setempat dan peserta kirab berbaur dalam suasana yang penuh kebersamaan, menandai kekuatan jejaring komunitas Tionghoa yang telah terjalin melalui tradisi ini.

Rombongan peserta kirab berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Gresik, Surabaya, dan masih banyak lagi. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa perayaan Bwee Gee di Kudus telah menjadi sebuah acara yang terkenal serta menjadi momen penting bagi komunitas dari berbagai daerah untuk berkumpul.

Penasihat Klenteng Menyampaikan Harapan

Liong Kuo Tjun, penasehat Klenteng Hok Hien Bio Kudus, menyoroti tingginya antusiasme peserta dari luar kota dalam acara kirab kali ini. Menurutnya, banyaknya kelompok yang bergabung mencerminkan eratnya hubungan antara klenteng yang terjalin lewat kegiatan keagamaan dan budaya yang saling mengikat.

Berbagai klenteng yang turut berkontribusi dalam kirab ini mencakup Hok Hien Bio dan Hok Ling Bio Kudus, dan beberapa lainnya dari daerah lain seperti Han Tan Kong Bogor dan Hong San Kiong Gudo. Kirab ini menempuh rute sekitar lima kilometer, dimulai dan diakhiri di Hok Hien Bio Kudus, melintasi berbagai jalan utama yang menjadi bagian dari kota Kudus.

See also: Ketua TP PKK Jateng Apresiasi UMKM Desa Wisata

Peserta kirab dan masyarakat kudus menyatu di Simpang Tujuh Kudus. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)
Peserta kirab dan masyarakat kudus menyatu di Simpang Tujuh Kudus. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM) (Source: isknews.com)

Semangat Bwee Gee sebagai Ungkapan Syukur

Liong Kuo Tjun juga menyampaikan bahwa Bwee Gee adalah ungkapan rasa syukur kepada Dewa Bumi atas perlindungan dan berkah yang diberikan. Dalam kesempatan ini, harapan untuk keselamatan dan kesejahteraan di tahun yang akan datang turut menjadi doa bersama. Kirab ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sebuah usaha untuk memperkuat ikatan sosial antara warga dan komunitas Tionghoa di Kudus.

Melalui tradisi yang diadakan selama dua hari ini, mulai 31 Januari hingga 1 Februari 2026, diharapkan kesinambungan dari perayaan ini dapat menjadi bagian tak terpisahkan dalam budaya Kota Kretek, dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Seperti yang disampaikan oleh Aris Sofiyanto, tradisi ini telah memperlihatkan kekuatan dan kehangatan komunitas dalam menjalin silaturahmi yang erat.

Leave a Comment